Amazon MP3 Clips

Kamis, 04 Oktober 2012

MORFOLOGI

MORFOLOGI BAHASA INDONESIA
Kelompok 2
Oleh:
Ibnu Ma’ruf                :A1B109233
Anggelianita Roesadi  :A1B109204
Rahmiyatul Ahda        :A1B112214
Rusmawati                  :A1B110247
Dina Yaumil Amal       :A1B112216
Indah Purnama Sari    :A1B112217
Uswatun Hasanah        :A1B112212
Uswatun Hasanah        :A1B112225
H. Abdul Majid            :A1B112232
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JURUSAN PENDIDIKAN DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2012
MORFOLOGI
A.   Pengertian Morfologi
            Morfologi (dalam tata bentuk Bahasa Inggris, morfhologi) adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal. Tambahan “secara gramatikal” dalam defenisi ini mutlak ada karena setiap kata juga dapat dibagi atas segmen yang terkecil disebut fonem, tetapi fonem-fonem ini tidak harus berupa morfem. Misalnya kata medan terdiri atas lima fonem, tetapi kata itu sendiri terdiri atas satu morfem saja. Satu morfem kebetulan dapat juga terdiri atas satu fonem saja, misalnya –s dalam kata Bahasa Inggris sleeps.
            Dalam analisis morfologi kita ambil bentuk ajar. Dengan menambahkan meng- di depannya kita dapat membentukkan kata mengajar. Tetapi proses-proses morfemis dapat menghasilkan cukup banyak kata yang lain, misalnya belajar, pelajar, pelajaran, mengajar, pengajar, mengajarkan, mengajari, mempelajari, diajar, diajarnya, dan sebagainya.
            Samsuri (1988: 15) mendefinisikan “Morfologi sebagai cabang linguistik yang mempelajari struktur dalam bentuk-bentuk kata.” Satuan dasar analisisnya yang diakui dalam morfologi ialah morfem.
            Selanjutnya, menurut Supriyadi dkk (1996: 5) morfologi ialah cabang dari ilmu bahasa yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata dan perubahannya serta dampak dari perubahan itu terhadap arti (makna) dan kelas kata.

B.   Pembentukan kata
Pembentukan kata banyak terjadi pada suatu bahasa untuk segala kebutuhan gramatikal. Kata dapat dibentuk untuk memenuhi fungsi derivasional maupun infleksional. Pembentukan kata dapat terjadi dalam beberapa proses.

1.        Afiksasi
Pembentukan kata yang paling umum adalah dengan menambahkan afiks atau dikenal dengan afiksasi (Bauer 1988: 19). Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar (Chaer 2007: 177). Afiks merupakan morfem yang digunakan dengan cara menggabungkannya dengan morfem lain yang merupakan bentuk dasar. Afiks juga merupakan morfem terikat dan tidak pernah berdiri sendiri di dalam sebuah kalimat (Katamba 1993: 44). Afiks sendiri tidak mempunyai makna, tetapi selalu terikat pada bentuk dasarnya.
a.       Prefiksasi (Awalan)
Prefiks ialah afiks (imbuhan) yang ditempatkan di bagian muka dasar (mungkin kata dasar atau kata kompleks/ jadian).
Contoh:
1. Prefiks meng-
a)      bentuk prefiks meng- adalah jika fonem awal satuan dasar kata bentuknya /n/, /k/, /g/, /x/
·         hindar + meng-           menjadi           menghindar
·         urus     + meng-           menjadi           mengurus
b)      bentuk prefiks mem-, jika fonem awal satuan dasar kata bentuknya /b/, /p/, atau /f/
·         buang  + mem-            menjadi           membuang
·         pilih     + mem-            menjadi           memilih
c)      bentuk prefiks meny-, jika fonem awal satuan dasar kata bentuknya /s/, /c/, /j/, atau /z/
·         cuci      + meny-           menjadi           menyuci
·         sempit  + meny-           menjadi           menyempit
d)     bentuk prefiks men-, jika fonem awal satuan dasar kata bentuknya /d/ dan  /t/
·         dapat   + men-             menjadi           mendapat
·         tawar   + men-             menjadi           menawar
e)      bentuk prefiks menge-, jika satuan dasarnya berupa satu suku kata
·         cat       + menge-         menjadi           mengecat
·         las        + menge-         menjadi           mengelas

2.    Prefiks di-
Menurut struktur fonologisnya prefeiks di- hanya memiliki sebuah bentuk yaitu di-.
contoh:
·         Sabit    + di-    = disabit
·         Aspal   + di-    = diaspal

3.    Prefiks ber-
Ada tiga macam prefiks ber- yaitu ber-, be-, bel-.
Contoh:
·         ubah    + ber-   = berubah
·         rumput + be-    = berumput
·         ajar      + bel-   = belajar

b.      Infiksasi
Infiksasi adalah proses morfologis yang terjadi pemeranan infiks sebagai satuan pembentuk. Infiks adalah jenis afiks yang berposisi di bagian tengah satuannya, contoh:
·         guruh   + -em   = gemuruh
·         tapak   + -el     = telapak
·         sabut    + -er     = serabut
·         kerja    + in      = kinerja

c.       Sufiksasi
Sufiksasi adalah proses morfologis yang terjadi dengan pemeranan sufiks sebagai unsur pembentukan satuan. Sufiks merupakan afiks yang berposisi di bagian belakang satuan dasar, contoh:
·         lari       + -kan  = larikan
·         turut    + -i       = turuti
·         tahan   + -an    = tahanan
d.      Konfiksasi
Konfiksasi adalah proses morfologis yang terjadi dengan pemeranan konfiks sebagai unsure pembentuk satuan. Konfiks adalah afiks yang diimbuhkan di depan dan di belakang bentuk dasar, contoh
·         pandang          + ber-an          = berpandangan
·         hujan               + ke-an            = kehujanan
·         kupas               + peN-an         = pengupasan
·         toko                 + per-an          = pertokoan
·         baik                 + se-nya           = sebaik-baiknya
2.    Reduplikasi 
Reduplikasi merupakan pengulangan, baik pengulangan seluruh kata dasar maupun pengulangan sebagian kata dasar. Dalam bahasa Indonesia reduplikasi merupakan mekanisme yang penting dalam pembentukan kata, di samping afiksasi, komposisi, dan akronimisasi. Meskipun reduplikasi terutama adalah masalah morfologi, masalah pembentukan kata, tetapi ada pula reduplikasi yang menyangkut masalah fonologi, masalah sintaksis, dan masalah semantis.
1. Reduplikasi Fonologis
Reduplikasi fonologis terjadi pada dasar yang bukan bukan akar atau terhadap bentuk yang statusnya lebih tinggi dari akar. Reduplikasi fonologis ini tidak menghasilkan makna gramatikal, melainkan menghasilkan makna leksikal. Yang termasuk reduplikasi fonologis adalah bentuk-bentuk seperti berikut ini :
·      dada, pipi, kuku, cincin. Bentuk-bentuk tersebut bukan berasal dari da, pi, ku, dan cin. Jadi, bentuk-bentuk tersebut adalah sebuah kata yang bunyi kedua suku katanya sama.
·      foya-foya, tubi-tubi, anai-anai, ani-ani. Bentuk-bentuk ini memang jelas termasuk bentuk pengulangan yang diulang secara utuh. Akan tetapi, bentuk dasarnya tidak berstatus sebagai akar yang mandiri. Saat ini, dalam bahasa Indonesia tidak ada akar foya, tubi, anai, dan ani.
·      kupu-kupu, kura-kura, onde-onde, paru-paru. Bentuk-bentuk ini juga merupakan pengulangan yang diulang secara utuh. Akan tetapi, hasil reduplikasinya tidak melahirkan makna gramatikal. Hasil reduplikasinya hanya menghasilkan makna leksikal.
·      luntang-lantung, mondar-mandir, teka-teki, kocar-kacir. Bentuk-bentuk ini tidak diketahui mana yang menjadi bentuk dasar pengulangannya. Selain itu, maknanya pun hanya makna leksikal, bukan makna gramatikal.
2. Reduplikasi Sintaksis
Reduplikasi sintaksis adalah proses pengulangan terhadap sebuah dasar yang biasanya berupa akar, tetapi menghasilkan satuan bahasa yang statusnya lebih tinggi daripada sebuah kata. Contohnya adalah :
Jangan jangan kau dekati pemuda itu.
Suaminya benar benar jantan.
Kata beliau, “tenang tenang, jangan panik”.
3. Reduplikasi Semantis
Reduplikasi semantis adalah pengulangan “makna” yang sama dari dua buah kata yang bersinonim. Misalnya, cerdik cendekia, alim ulama, dan ilmu pengetahuan. Selain itu, bentuk-bentuk seperti segar bugar, kering mersik, muda belia, tua renta, dan gelap gulita menurut Abdul Chaer juga termasuk dalam reduplikasi semantis. Akan tetapi, bentuk-bentuk seperti ini dalam berbagai buku tata bahasa dimasukkan dalam kelompok reduplikasi berubah bunyi.
4. Reduplikasi Morfologis
Reduplikasi morfologis dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk berafiks, dan berupa bentuk komposisi. Prosesnya dapat berupa pengulangan utuh, pengulangan sebagian, maupun pengulangan berubah bunyi.
a. Pengulangan Akar
§      Dwilingga (pengulangan utuh)
Pengulangan utuh (dwilingga) adalah pengulangan bentuk dasar tanpa melakukan perubahan bentuk fisik dari akar itu. Misalnya, meja-meja (bentuk dasar meja), sungguh-sungguh (bentuk dasar sungguh), makan-makan (bentuk dasar makan), dan tinggi-tinggi (bentuk dasar tinggi).
§      Dwipurwa (pengulangan sebagian)
Pengulangan sebagian (dwipurwa) adalah pengulangan bentuk dasar yang hanya salah satu suku katanya saja yang diulang, dalam hal ini suku awal kata, disertai dengan “pelemahan” bunyi. Misalnya tetangga (bentuk dasar tangga), leluhur (bentuk dasar luhur), lelaki (bentuk dasar laki), dan jejari (bentuk dasar jari).
§      Dwilingga salin suara (pengulangan dengan perubahan bunyi)
Pengulangan dengan perubahan bunyi (dwilingga salin suara) adalah pengulangan bentuk dasar tetapi disertai dengan perubahan bunyi. Yang berubah bisa bunyi vokalnya bisa pula bunyi konsonannya. Contohnya adalah bolak-balik, corat-coret, kelap-kelip, sayur-mayur, lauk-pauk, ramah-tamah.
§      Dwiwasana
Dwiwasana adalah pengulangan bagian belakang dari leksem. Contohnya adalah tertawa-tawa, pertama-tama, sekali-sekali, berhari-hari.
§      Trilingga
Trilingga adalah pengulangan kata dasar sebanyak tiga kali dengan variasi fonem. Contohnya adalah cas-cis-cus, ngak-ngek-ngok, dag-dig-dug, dar-der-dor.
b. Pengulangan Dasar Berafiks
Ada tiga macam proses afiksasi dan reduplikasi.
§        Pertama, sebuah akar diberi afiks dahulu, kemudian direduplikasi. Misalnya, pada akar lihat mula-mula diberi prefiks me- menjadi melihat, kemudian baru diulang menjadi bentuk melihat-melihat.
§        Kedua, sebuah akar direduplikasi dahulu, baru kemudian diberi afiks. Misalnya, akar jalan mula-mula diulang menjadi jalan-jalan, baru kemudian diberi prefiks ber- menjadi berjalan-jalan.
§        Ketiga, sebuah akar diberi afiks dan diulang secara bersamaan. Misalnya, pada akar minggu diberi prefiks ber- dan proses pengulangan sekaligus menjadi bentuk berminggu-minggu.
Pada contoh di atas, proses reduplikasi yang terjadi berlangsung ke arah sebelah kanan, atau sesuai dengan arus ujaran, sehingga disebut reduplikasi progresif. Akan tetapi, ada pula reduplikasi regresif, yaitu reduplikasi yang proses pengulangannya terjadi ke arah sebelah kiri. Contohnya adalah tembak-menembak, pukul-memukul.
c. Reduplikasi Morfemis
Harimurti Kridalaksana menjabarkan menjadi
§      Reduplikasi pembentuk verba
Contohnya adalah :
1.    Sebaiknya beres-beres dari sekarang.
2.    Habis sudah majalah ini digunting-gunting oleh adikmu.
3.    Kedua anak itu sedang berpukul-pukulan  memperebutkan sebuah coklat.
§      Reduplikasi pembentuk ajektiva
Contohnya adalah :
1.    Anak Pak Hasan cantik-cantik.
2.    Ia anak baik-baik.
3.    Keris ini pusaka turun-temurun keluarga kami.
§      Reduplikasi pembentuk nomina
Contohnya adalah :
1.    Penduduk desa itu bertanam sayur-mayur.
2.    Tetangga kami akan mengadakan pesta selamatan.
3.    Langit-langit rumah kami sedang diperbaiki.
§        Reduplikasi pembentuk pronomina
1.    Dia-dia saja yang menjadi ketua kelompok.
2.    Kami-kami ini biasanya makan di warung tegal.
3.    Mereka menyebut kita-kita ini orang bodoh.
§      Reduplikasi pembentuk adverbia
1.    Kerjakan tiga-tiga supaya cepat selesai.
2.    Dia meniti jembatan itu dengan perlahan-lahan.
3.    Ia berangkat ke kantor pagi-pagi ­sekali.
§        Reduplikasi pembentuk interogativa
1.    Apa-apaan kamu datang ke rumah saya malam-malam begini.
§        Reduplikasi pembentuk numeralia
1.    Berpuluh-puluh mahasiswa berkumpul di depan kantor rektor untuk mengadakan aksi unjuk rasa.
3. Komposisi
            Komposisi adalah hasil dan proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar, baik yang bebas maupun terikat, sehingga terbentuk sebuah kontruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda, atau yang baru (Chaer: 185).  Komposisi terdapat dalam banyak bahasa. Misalnya, lalu lintas, daya juang, dan rumah sakit.
            Verhaar (1978) menyatakan suatu komposisi disebut kata majemuk kalau hubungan kedua unsurnya tidak bersifat sintaksis. Kridalaksana (1985) menyatakan kata majemuk haruslah tetap berstatus kata: kata majemuk harus dibedakan dari idiom, sebab kata majemuk adalah konsep sintaksis, sedangkan idiom adalah konsep semantik.
a.       Perbedaan Kata Majemuk, Frasa, dan Klausa
Kata majemuk adalah kata yang terbentuk dari dua buah morfem yang berhubungan secara padu dan hasil penggabungan morfem-morfemnya menimbulkan makna baru. Gabungan yang tidak padu dan tidak menimbulkan makna baru disebut kata atau frasa.
Klausa terjadi jika gabungan kata menempati dua jabatan kalimat atau lebih (SP). Contoh klausa : saya tidur. Kata “saya” sebagai subjek dan “tidur” sebagai predikat. Kata majemuk adalah kontruksi morfologi sedangkan frasa dan klausa adalah kontruksi sintaksis.
b.      Perbedaan Antara Kata Majemuk dengan Idiom
Kata majemuk adalah kata yang terbentuk melalui penggabungan satu kata dengan kata yang lain namun maknanya secara langsung masih bisa ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.
Kata majemuk: A+B menimbulkan makna AB
Contoh: terjun + payung = melakukan terjun dari udara dengan memakai alat semacam paying
            Sedangkan idiom adalah perpaduan dua kata atau lebih, tetapi makna dari perpaduan ini tidak dapat secara langsung ditelusuri dari makna masing-masing kata yang tergabung.
Idiom: A+B menimbulkan makna C
Contoh: naik + darah = marah
            Selain itu, dilihat dari panjang pendeknya bentuk. Biasanya verba majemuk pendek dan umumnya terbatas pada dua kata. Sebaliknya, idiom bisa terdiri dari dua kata atau lebih.
Contoh idiom: bertepuk sebelah tangan, memancing di air keruh

4.    Abreviasi/ Pemendekan kata
            Menurut teori nonkonvensional, abreviasi merupakan salah satu proses morfologis. Abreviasi adalah proses pemenggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga terjadilah bentuk baru yang berstatus kata. Istilah lain untuk abreviasi adalah pemendekan, sedangkan hasil prosesnya disebut kependekan.
            Dalam proses ini, leksem atau gabungan leksem menjadi kata kompleks atau akronim atau singkatan dengan pelbagai abreviasi, yaitu dengan pemenggalan, kontraksi, akronimi, dan penyingkatan.

Jenis-jenis Kependekan

            Bentuk-bentuk kependekan muncul akibat terdesak oleh kebutuhan untuk berbahasa secara praktis dan cepat. Di antara bentuk-bentuk kependekan tersebut terdapat bentuk-bentuk berikut:
a.       Singkatan
Singkatan yaitu salah satu hasil proses pemendekan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik yang dieja huruf demi huruf maupun yang tidak, misalnya: FSUI (Fakultas Sastra Universitas Indonesia), KKN (Kuliah Kerja Nyata), DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).
b.      Penggalan
Penggalan yaitu proses pemendekan yang mengekalkan salah satu bagian dari leksem, seperti Prof (Profesor), Kol (Kolonel), Pak (Bapak).
c.       Akronim
Akronim yaitu proses pemendekan yang menggabungkan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai sebuah kata yang sedikit banyak memenuhi kaidah fonotaktik bahasa Indonesia seperti SIM (Surat Izin Mengemudi), IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan), LAN (Lembaga Administrasi Negara).
d.      Kontraksi
Kontarksi yaitu proses pemendekan yang meringkaskan leksem dasar atau gabungan leksem seperti takkan (tidak akan), rudal (peluru Kendal), sendratari (seni drama tari).
e.       Lambang huruf
Lambang huruf yaitu proses pemendekan yang menghasilkan satu huruf atau lebih yang menggambarkan konsep dasar kuantitas, satuan atau unsur, seperti cm (centimeter), kg (kilo gram), Au (Aurum).

Klasifikasi Bentuk-bentuk Kependekan

a. Singkatan
         Bentuk singkatan terjadi karena proses-proses berikut:
1.      penggalan huruf pertama tiap komponen. Misalnya: H = Haji, AA = Asia-Afrika, RS = Rumah Sakit.
2.      pengekalan huruf pertama dengan pelesapan konjungsi, preposisi, reduplikasi, dan artikulasi kata. Misalnya: IKIP = Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
3.      pengulangan huruf pertama dengan bilangan bila berulang. Misalnya 3D = Dilihat, Diraba, Diterawang.
4.      pengekalan dua huruf pertama dari kata. Misalnya: Ny = nyonya, Wa = Wakil.
5.      pengekalan tiga huruf pertama dari sebuah kata. Misalnya: Okt = Oktober.
6.      pengekalan empat huruf pertama dari suatu kata. Misalnya: sekr = sekretaris, Sept = September.
7.      pengekalan huruf pertama dan huruf terakhir kata. Misalnya: Ir = Insinyur.
8.      pengekalan huruf pertama dan huruf ketiga. Misalnya: Gn = Gunung.
9.      pengekalan huruf pertama dan terakhir dari suku kata pertama dan huruf pertama dari suku kata kedua. Misalnya: Kpt = Kapten.
10.  pengekalan huruf pertama kata pertama dan huruf pertama kata kedua dari gabungan kata. Misalnya: VW = Volkswagen.
11.  pengekalan dua huruf pertama dari kata pertama dan huruf pertama kata kedua dalam suatu gabungan kata. Misalnya Swt = Swatantra.
12.  pengekalan huruf pertama suku kata pertama dan huruf pertama dan terakhir suku kata kedua dari suatu kata. Misalnya: Bdg = Bandung, tgl = tanggal.
13.  pengekalan huruf pertama dari tiap suku kata. Misalnya: hlm = halaman.
14.  pengekalan huruf pertama dan huruf keempat dari suatu kata. Misalnya:DO = depot.
15.  pengekalan huruf yang tidak beraturan. Misalnya: Kam = keamanan.

b. Akronim dan Kontraksi
         Akronim dan kontraksi sukar dibedakan, sering tumpang tindih. Sebagai pegangan dapat ditentukan bahwa bila seluruh kependekan itu dilafalkan sebagai kata wajar, kependekan itu merupakan akronim.
         Akronim dapat terjadi karena proses-proses berikut:
1.      akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Misalnya: ABRI=Angkatan Bersenjata Rpublik Indonesia.
2.      akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Misalnya: Akabri= Akademi angkatan bersenjata Republik Indonesia.
3.      akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil. Misalnya: pemilu= pemilihan umum.

Jika dianggap perlu membentuk akronim, hendaknya diperhatikan jumlah suku kata akronim jangan melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata Indonesia. Dan akronim dibentuk dengan mngindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata Indonesia yang lazim.
Secara garis besar, kontraksi mempunyai subklasifikasi sebagai berikut:
1.      pengekalan suku pertama dari tiap komponen. Misalnya: Orba=orde baru.
2.      pengekalan suku pertama komponen pertama dan pengekalan kata seutuhnya. Misalnya: angair=angkutan air.
3.      pengekalan suku kata terakhir dari tiap komponen. Misalnya: Gatrik=tenaga listrik.
4.      pengekalan suku pertama dari komponen pertama dan kedua serta huruf pertama dari komponen selanjutnya. Misalnya: Gapeni= Gabungan Pengusaha Apotek Nasional Indonesia.
5.      pengekalan suku pertama tiap komponen dengan pelesapan konjungsi. Misalnya: Anpuda= Andalan Pusat dan Daerah.
6.      pengekalan huruf pertama tiap komponen. Misalnya: KONI=Komite Olahraga Nasional Indonesia (bertumpang tindih dengan singkatan).
7.      pengekalan huruf pertama tiap komponen frasa dan pengekalan dua huruf pertama komponen terakhir. Misalnya: Aika= Arsitek Insinyur Karya.
8.      Pengekalan dua huruf pertama tiap komponen.Misalnya: Unud= Universitas Udayana.
9.      pengekalan tiga huruf pertama tiap komponen. Misalnya: Puslat=Pusat latihan.
10.  pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan tiga huruf pertama komponen kedua disertai pelesapan konjungsi. Misalnya: abnon=abang dan none.
11.  pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan ketiga serta pengekalan huruf pertama komponen kedua. Misalnya: Nekolim= Neokolonialisme, Kolonialisme, imperialis.
12.  pengekalan huruf pertama komponen pertama dan ketiga serta pengekalan huruf pertama komponen kedua. Misalnya: Nasakom=Nasional, Agama, Komunis.
13.  pengekalan tiga huruf pertama tiap komponen serta pelesapan konjungsi. Misalnya: Falsos=falsafah dan sosial.
14.  pengekalan dua huruf pertama komponen pertama dan tiga huruf pertama komponen kedua. Misalnya: Jabar=Jawa Barat.
15.  pengekalan empat huruf pertama tiap komponen disertai pelesapan konjungsi. Misalnya:  Agitrop= agitasi dan propaganda.
16.  pengekalan berbagai huruf dan suku kata yang sukar dirumuskan. Misalnya: Akaba= Akademi Perbankan.

c. Penggalan
1.      penggalan suku pertama dari suatu kata. Misalnya: Dok= Dokter.
2.      pengekalan suku terakhir suatu kata. Misalnya: Pak=bapak.
3.      pengekalan tiga huruf pertama dari suatu kata. Misalnya: Dep= Departemen.
4.      pengekalan empat huruf pertama dari suatu kata. Misalnya: Prof= Profesor.
5.      pengekalan kata terakhir dari suatu frasa. Misalnya: ekspres=kereta api ekspres.
6.      pelesapan sebagian kata. Misalnya: bahwa sesungguhnya = bahwasanya.

d. Lambang huruf
         lambang huruf dapat diklasifikasikan menjadi:
1. lambang huruf yang menandai bahan kimia atau bahan lain.
a.       Pengekalan huruf pertama dari kata. Misalnya: N= Nitrogen.
b.      Pengekalan dua huruf pertama dari kata. Misalnya: Na=natrium.
c.      Pengekalan huruf dan bilangan yang menyatakan rumus bahan kimia. Misalnya: H2O = hydrogen dioksida.
d.      Pengekalan huruf pertama dan ketiga. Misalnya: Mg = magnesium.
e.       Pengekalan gabungan lambang huruf. Misalnya: Na Cl = Natrium Klorida.

2. lambang huruf yang menandai ukuran.
a.      Pengekalan huruf pertama. Misalnya: g = gram.
b.      Pengekalan huruf pertama dari komponen gabungan. Misalnya: km = kilometer.
c.       Pengekalan huruf pertama dan terakhir dari komponen pertama dan huruf pertama komponen kedua. Misalnya: dam= decameter.
d.      Pengekalan huruf pertama, ketiga, dan keempat. Msalnya: yrd= yard.

3. lambang huruf yang menyatakan bilangan.
Huruf-huruf yang digunakan sebagai lambang bilangan adalah I=1, V=5,X=10, L=50.

4. lambang huruf yang menandai kota/Negara/alat angkutan.
a.       Pengekalan dua huruf pertama ditambah satu huruf pembeda. Misalnya: SIN= Singapura, DJB=Jambi.
b.      Pengekalan tiga huruf konsonan. Misalnya: JKT= Jakarta.
c.       Lambang huruf yang menandai nomor mobil. Misalnya: A= Banten, E = Cirebon.

5. lambang huruf yang menyatakan uang.
Lambang huruf yang digunakan untuk menandai uang, antara lain: Rp = rupiah, $= Dolar, Fr= Frenc.

6. lambang huruf yang dipakai dalam berita kawat.
Lambang huruf yang dipergunakan dalam berita kawat, antara lain: HRP= harap, DTG= datang, SGR= Segera.

4. Afiksasi terhadap Kependekan
            Setelah mengalami leksikalisasi, kependekan dapat mengalami gramatikalisasi berupa proses afiksasi. Contoh:

Afiks:
Bentuk kependekan:
Hasil:
Makna:
di-
tilang
ditilang
kena
di-kan
dubes
didubeskan
jadi

inpres
diinpreskan


KB
di-KB-kan


mahmilub
dimahmilubkan


TV
di-TV-kan

me-kan
ormas
mengormaskan


mahmilub
memahmilubkan

ber-
parpol
berparpol
mempunyai


5. Reduplikasi atas Kependekan
            Beberapa bentuk kependekan dapat direduplikasikan, seperti ormas-ormas, SD-SD, Kanwil-Kanwil.

6. Penggabungan atas Kependekan

            Penggabungan bentuk-bentuk kependekan dapat terjadi antara dua bentuk kependekan atau lebih. Penggabungan beberapa kependekan tidak hanya membentuk kata atau frasa,  melainkan juga dapat membentuk kalimat. Misalnya:
·         Singkatan + singkatan : RT RW
·         Akronim + singkatan : HUT RI
·         Penggalan + penggalan : Kabag Kalab
·         Akronim + akronim : BAPEDA JABAR
·         Singkatan + penggalan + akronim = Ttg. RUU Ormas (kalimat)

7. Pelesapan atas kependekan
            Ada beberapa proses pelesapan yang dapat terjadi pada kependekan, antara lain:
a.       Pelesapan huruf: Lurgi = luar negeri, klompen = kelompok pendengar.
b.      Pelesapan suku kata: Gatra = Gabungan Tentara, Gestok = gerakan satu oktober.
c.       Pelesapan kata: Gabis = Gabungan pengusaha bioskop.
d.      Pelesapan afiks: KOTI = Komando operasi tertinggi.
e.       Pelesapan konjungsi, preposisi, partikel, atau reduplikasi: porakh = pecan olahraga Kesenian dan Hiburan, DGI = Dewan gereja-geraja di Indonesia.

8. Penyingkatan atas Kependekan
            Proses penyingkatan dapat terjadi dalam kependekan sehingga ada penyingkatan dalam singkatan. Misalnya: AMD = ABRI masuk desa.
Blog kelompok 2: kelompokmorfologi.blogspot.com
DAFTAR PUSTAKA
Bauer, Laurie. 1988. Introducing Linguistic Morphology. Edinburgh: Edinburgh University Press.
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Katamba, Francis. 1993. Modern Linguistics Morphology. London: The MacMillan Press.
Kridalaksana, Harimukti. 1989. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.
Noortyani, Rusma. 2010. Morfologi Bahasa Indonesia. Banjarmasin: Scripta Cendikia
Verhar, J.W.M. 1978. Pengantar Linguistik I. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar